أصُونُ أَدِيْمَ وَجْهِى عَنْ أُناَسٍ # لقاءُ الموتِ عِنْدَهُمُ الأَدِيْبُ
و رَبّ الشِعْرِ عِنْدَهُمُ بَغِيْضً # وَلوْ وَافى بِهِ لَعُمُ حَبِيْبٌ
Aku memelihara kulit mukaku dari banyak orang. bertemu mati menurut mereka adalah sesuatu yang beradab.
Pengarang menurut mereka adalah orang yang dibenci, meskipun yang datang kepada mereka itu adalah "orang yang dicintai" (Abu Tamam/Habib bin Aus)*.
كَمْ قَطَعَ الجُوْدُ منْ لسانٍ # قَلَّدّ منْ نَظْمهِ النُّحُورَا
فَهَا أنا شاَعِرٌ سِراجٌ # فَاقْكَعْ لِساني أَزِدْكَ نُوْرَا
Banyak sekali kedermawanan itu memutuskan lidah dan mengikat leher dengan rangkaiannya. Maka ingatlah, aku fadalah seorang penyair yang menjadi penerang. Potonglah lidahku, maka aku akan bertambah terang.
وَقَفْتُ بِأَكْلاَل الأحِبَّةِ سَائِلا # وَ جَمْعِيَ يَسْقِى ثَمَّ عَهْدًا و مَعْهَدَا
وَ من عَجَبٍ أَنِّ أُرَوِّى دِيَارَهُمْ # وَ خَطَّيَ منْها حِيْنَ أسْأَلها الّصَّدَى
Aku berhenti di bekas reruntuhan rumah kekasihku untuk bertanya, dan air mataku menetes di sana beberapa saat. Yang mengherankan adalah bahwa aku puas dengan rumah-rumah itu, padahal yang aku dapati ketika aku bertanya hanyalah gema.
BONUS : SYAIR RUMI TENTANG BULAN RAMADHAN
فَلَيْتَ اللَّيْلَ فيْهِ كَنَ شَهرًا وَ مَرَّ نَهَارُهُ مَرَّ السَّحَابِ
Maka alangkah baiknya jika satu malam bulan Ramadhan itu lamanya sebulan, sedangkan siangnya berjalan secepat perjalanan awan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar